Thursday, 7 February 2013

Kumohon, pulanglah....


Sudah hampir setengah jam Inong duduk di pinggir jalan itu, menunggu Emak  yang belum juga pulang. Kepangan rambutnya sudah tak jelas lagi bentuknya, kusut di sana sini. Matanya sampai kebas karena kelewat awas memperhatikan setiap orang yang berlalu-lalang. Panas badan dan pusing kepala yang masih tersisa tak dirasakannya. Inong hanya ingin Emak pulang.

Sebenarnya Emak adalah neneknya. Nama Inong sendiri adalah nama neneknya. Sejak lahir Inong belum diberi nama, hanya karena dirawat oleh Mak Inong maka orang-orang memanggilnya Inong. Ibu kandungnya sudah lama pergi. Empat puluh hari setelah Inong lahir, ibunya langsung meninggalkannya untuk pergi merantau. Menjadi TKI kata Emak. Sedangkan ayah kandungnya, bahkan Emak pun tidak pernah tahu siapa. Emak hanya berkata pada Inong bahwa ayahnya sudah meninggal. Jadilah sejak itu kedua nenek-cucu tinggal bersama. Saling memiliki, yang satu adalah satu-satunya milik yang lain. Dan enam tahun sudah berlalu sejak saat itu, Inong begitu menyayangi Emak, begitupun tak pernah terlewat seharipun Emak bersyukur pada Allah telah diberikan seorang malaikat kecil semanis Inong.

Tadinya Inong dan Emak tinggal di sebuah rumah kayu yang sudah reyot di bantaran sungai Ciliwung. Namun banjir beberapa minggu lalu membawa hanyut rumah mereka dan segala yang mereka punya, bahkan harapan juga mimpi Inong yang rencananya akan masuk sekolah tahun ajaran baru nanti. Tapi banjir menghanyutkan semuanya, tanpa sisa. Sekarang mereka tinggal di sebuah rumah kardus, masih di bantaran sungai Ciliwung. Inong dan Emak tak punya banyak pilihan. Semuanya hanyut, hanya baju yang menempel di badan saja yang tersisa.

Emak yang biasanya berjualan pisang goreng kini beralih menjalani pekerjaan lain yang tak memerlukan modal uang tetapi hanya modal tenaga, yaitu pemulung sampah. Setiap siang sampai menjelang malam Emak pergi mengumpulkan sampah plastik untuk kemudian  dijual kepada juragan. Emak mencari dimana saja, di terminal, stasiun, jalanan. Mencari hampir di mana saja dan apa saja. Botol kemasan minuman, botol kemasan shampoo, gelas-gelas plastik, kardus-kardus bekas, apapun yang laku dijual.

Sesampainya di rumah kardus, Emak membereskan hasil cariannya dengan dibantu Inong kalau bocah kecil itu belum tidur. Mulai dari memilah-milah sesuai jenis, sampai membersihkan sisa-sisa yang masih ada di dalam botol lalu menjualnya kepada juragan esok paginya untuk kemudian hasil penjualan tersebut dibelikan makanan untuknya dan Inong.

Biasanya Inong ikut Emak memulung sampah. Hanya saja beberapa hari ini Inong demam dan Emak memaksanya untuk tetap di rumah dan beristirahat. Padahal Inong begitu suka tiap kali ikut Emak. Inong suka melihat gedung-gedung tinggi, mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan, kereta-kereta yang datang dan pergi di stasiun, juga orang-orang yang berpakaian bagus. Inong selalu suka melihat berbagai hal berbeda dari segala yang ada di sekitar rumah kardusnya.

Inong mengucek-ucek matanya. Menguap, menahan kantuk. Padahal Emak belum juga terlihat. Hampir satu jam Inong menunggu. Kakinya mulai lelah mondar-mandir tiap kali bosan duduk saja. Yang ditunggu entah ada di mana.

Purnama perak di atas kepala Inong bercahaya begitu terang. Lingkaran sempurna yang begitu cantik memukau. Inong selalu bertanya-tanya,  sejauh apakah bulan itu, sejauh apa bintang-bintang di langit. Apakah lebih jauh dari dia dan ibunya atau malah lebih dekat. Tetapi sepertinya bulan dan bintang lebih dekat dengannya ketimbang ibunya, karena setidaknya Inong masih bisa melihat mereka, tak seperti ibunya yang belum pernah sekalipun dia lihat. Terkadang bila sedang sendirian Inong menebak-nebak seperti apa wajah ibunya, apa yang sedang dilakukan ibunya, apakah ibunya juga memikirkannya, dan beratus-ratus pertanyaan lain. Inong pernah bertanya pada Emak soal mengapa ibunya tak pernah pulang, tak pernahkah ibunya merindukannya barang sedikit saja. Tapi Emak malah melulu menyuruhnya tidur atau entah melakukan apa saja alih-alih menjawab pertanyaan itu.

Inong sudah lelah dan amat lapar. Tetapi Emak masih belum terlihat. Inong melihat ke arah tenda nasi goreng yang ada di dekatnya. Aroma nasi goreng yang menguar di udara semakin menambah keroncongan di perutnya. Meski begitu Inong tetap diam saja di tempatnya duduk. Teringat satu peristiwa yang takkan pernah Inong lupakan.

Ketika itu umurnya masih lima tahun, dan Emak sedang pergi berjualan pisang goreng saat Inong diajak mengamen di lampu merah oleh teman-temannya yang lebih besar. Inong yang masih begitu polos hanya menurut saja diajak oleh mereka. Kebetulan Emak melewati lampu merah tempat Inong mengamen. Inong yang polos memanggil Emak dengan riang gembira karena baru mendapat mainan kecrekan dari teman-temannya. Tetapi Emak jauh dari ikut bergembira, Emak malah diam dan menatap Inong sambil bertanya apa yang dilakukannya di situ. Setelah Inong menjawab sejujurnya, Emak hanya menggandeng tangannya dan pulang ke rumah.

Di rumah Emak mengatakan sesuatu tentang harga diri. Emak berkali-kali mengatakan untuk tidak meminta-minta pada orang lain sesusah apapun itu. Bahwa satu-satunya yang masih akan selalu mereka miliki adalah harga diri untuk tidak meminta-minta, untuk tidak menjadi pengemis. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu, bahkan sesuap nasi, seseorang harus bekerja dan berusaha. Meski sedikit yang bisa dipahaminya, malam itu Inong kecil belajar untuk tidak akan pernah meminta apapun pada orang lain, hanya pada Emak saja. Seperti sekarang, Inong ingat pada perkataan Emak untuk tidak berjalan ke arah tenda itu dan meminta sesuap nasi, jadi Inong hanya terus berdoa dalam hati semoga Emak segera pulang.

Entah sudah berapa lama Inong menunggu Emak di pinggir jalan itu. Purnama perak yang menggantung di langit pun kini sudah tak mampu lagi menghibur bocah perempuan itu. Badannya yang hanya ditutupi selembar baju tipis yang sudah kedodoran menggigil kedinginan terkena gigitan angin malam. Mobil-mobil berwarna-warnipun sudah tak lagi bisa mengalihkan pandangan Inong dari bayangan wajah Emak. Sependek ingatan Inong yang masih enam tahun, wajah Emak selalu tersenyum. Tak pernah sekalipun Emak bersedih di depan Inong. Bahkan ketika Emak terjatuh dan kakinya berdarah karena terantuk batu, Emak masih tetap tersenyum meski sambil meringis. Yah kecuali ketika Emak melihatnya mengamen di lampu merah setahun yang lalu, itupun Emak tidak menampakkan muka marah, hanya muka kosong dan kecewa.

Sudah hampir tengah malam ketika Inong mulai merasa ketakutan, bendungan air di matanya hampir pecah. Emak belum juga terlihat. Inong tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila Emak tak pernah pulang lagi. Belum pernah Inong mengharap sebesar ini. Hatinya penuh oleh berbagai perasaan, takut, cemas, sedih, semuanya jadi satu. Rasa laparnya sudah lama hilang, diganti kecemasan, seakan seisi perutnya penuh dengan puluhan kupu-kupu yang berterbangan, membuatnya sesak. Emak selalu mengajaknya untuk sholat dan berdoa pada Allah. Kini Inong benar-benar ingin agar Allah mengabulkan doanya, satu-satunya doa yang dalam beberapa jam ini tanpa sadar telah Inong panjatkan.

Gerimis jatuh merintiki ibu kota bersamaan dengan Inong yang mulai menitikkan airmata. Mengharap Allah mendengar doanya. Semoga Emak segera pulang. Itu saja.

Saturday, 29 December 2012


Bersamamu, hidup layaknya kembang api. Menyala-nyala, berwarna-warni, gemerlapan, indah.
Namun pada akhirnya toh kembang api mati. Dan langit kembali gelap, sepi.


Akhir pekan menjelang pergantian tahun sudah datang. Aku masih menunggu ketukan di pintu. Mungkin kamu akhirnya kembali pulang. Ah tapi mungkin kamu memang sudah pulang, hanya saja bukan lagi ke rumah ini. Rumah yang dulu pernah memerangkap segala tawa dan tangis kita. Rumah tempat segala kenangan bermula dan berakhir, mengendap di dasar.

Tentu saja, bagaimana mungkin aku masih berpikir kamu akan pulang ke sini padahal kita sudah sepakat untuk berjalan masing-masing. Sendiri-sendiri. Dengan janji akan terus berbahagia meski tak lagi bersama-sama. Yah, aku masih ingat malam itu. Ketika kita akhirnya sepakat bahwa kita memang terlalu lelah untuk terus saling menyeimbangkan dua dunia yang sama sekali berlawanan. Bahwa salah satu dari kita masing-masing tak ada yang sanggup menyeberangi jurang di antara kita untuk bisa terus bersama. Semuanya kelewat memeras hati dan perasaan. Jadi di situlah kita, di sofa kesayangan kita, saling mengangguk pelan dan berusaha tersenyum sambil sesekali menghembuskan napas, berat.

Setelah itu kamu hanya tinggal semalam di rumah kita. Aku di kamar, dan kamu di sofa itu. Esoknya, bahkan sebelum embun subuh mencium dedaunan, aku mendengar suara langkah kakimu yang mengendap keluar rumah, tanpa berusaha membangunkanku untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal. Kita toh tidak butuh ucapan selamat tinggal?

Coklat hangatku sudah lama dingin. Derit jarum panjang terus saja mengingatkanku bahwa malam semakin larut. Mungkin kamu bahkan sudah lama terjatuh tidur dan bermimpi indah. Rumah mana yang kamu tuju pulang? Aku masih saja bertanya-tanya.

Hangatkah di sana? Apakah lebih hangat dari rumah kita? Sekarang rumah ini bahkan jadi sedingin pagi pertama di musim semi. Yah, belum sedingin musim dingin memang. Kenangan yang disimpan menyelamatkannya dari kedinginan yang membekukan. Hanya sedingin pagi pertama di musim semi. Ingatkah kamu tentang pagi itu? Pagi pertama musim semi, waktu itu pukul sembilan pagi saat orang-orang sibuk lalu lalang di sepanjang Kings Road Fortress Hill untuk bekerja, sekolah, atau apapun kegiatan mereka hari itu. Dan kita ikut dalam arus orang-orang, ikut masuk ke dalam tram yang akan membawa kita ke Victoria Park, tempat diadakannya festival bunga yang diadakan setiap musim semi.

Lebih dari seratus jenis bunga bermekaran bersamaan. Kita begitu bahagia melihat bunga-bunga itu. Aku ingat saat kamu bergumam ‘Ahh, mama pasti senang kalau ada di sini. Sayang kejauhan kalau harus dibawa ke Jakarta, jadi gak bisa dijadiin oleh-oleh yah bunganya.’ Lalu aku menyeletuk asal mendengar kalimatmu tadi, ‘Aku mau bunga. Kamu belum pernah kasih aku bunga.’ Tapi alih-alih kamu membelikanku bunga, kamu hanya berkata ‘Ih. Gak ah. Beli aja sendiri.’ Hahahaha, apa sih yang aku pikirkan saat itu? Bodoh sekali memintamu membelikanku bunga. Sama bodohnya seperti ketika aku memintamu membelikanku boneka, atau apapun hal sepele yang pernah aku minta yang sebetulnya sejak awal aku tahu takkan pernah aku dapatkan.

Jarum panjang sudah sempurna menjumpai jarum pendek. Sedangkan aku masih belum juga menjumpaimu mengetuk pintu rumah kita. Haruskah aku masuk ke kamar sekarang? Karena sepertinya sia-sia saja menunggumu di sofa ini. Sofa yang dulu pernah menjadi tempat favorit kita berdua. Aku lupa sudah berapa lama sofa ini menjadi terlalu luas untuk ku nikmati sendirian.

Aku melihat ke sekeliling rumah, semuanya masih sama seperti ketika kita menatanya bersama bertahun lalu. Kamu pergi tanpa membawa apa-apa. Meninggalkan semuanya di sini, memberikan segala beban kenangan sepenuhnya kepadaku. Kepada rumah ini. Semua benda sepele yang pernah kita beli bersama, entah memang dibutuhkan atau hanya karena kita menyukai benda-benda itu. Sekarang mereka semua seolah menatapku, bertanya padaku mengapa aku tak bergegas saja melupakan semuanya dan memulai dari awal. Mereka bahkan mungkin sudah melupakanmu. Tentu saja, yang mereka lihat hanya aku yang tiap kali melulu melongok melalui jendela barangkali akhirnya kamu kembali pulang. Lagipula, memangnya benda-benda sungguhan bisa bertanya? Aku memang aneh.

Aku menghembuskan napas berat sekali lagi. Teringat ketika akulah satu-satunya alasan dan selalu menjadi tempatmu kembali pulang. Kenangan itu manis sekali. Kelewat manis. Bagaimana kamu mengatakannya padaku, bahwa akulah tempatmu menuju, tempatmu kembali pulang. Lupakah kamu tentang itu? Rasanya iya.

Aku juga teringat malam tahun baru kita yang pertama. Kita baru saja pulang menonton pertunjukan teater, di dalam taksi dan terjebak kemacetan yang luar biasa. Bagaimana tidak, seluruh kendaraan total berhenti, memutuskan untuk parkir di jalan raya dan menonton kembang api yang mulai menyala di langit gelap menandakan tahun telah berganti. Sopir taksi yang baik hati meminta kita untuk keluar saja dan membayar ongkosnya, karena kalau kita terus tinggal di dalam situ entah berapa argo yang harus kita bayarkan untuk parkir sepanjang malam. Akhirnya kita memutuskan untuk berjalan kaki. Padahal kita sama-sama sudah lelah sekali. Dan rasanya aku hanya ingin duduk di jalanan bersama orang-orang, ikut menikmati pesta kembang api tahun baru. Tapi alih-alih setuju, kamu malah terus berjalan dan mengomeliku. Seolah yang ku minta kelewat besar dan berlebihan. Padahal apa susahnya duduk di jalanan dan mencoba menikmati pesta kembang api? Toh orang lain pun seperti itu. Jadi aku hanya mengikutimu pulang sambil terus menggerutu sepanjang jalan.

Aku jadi berpikir, selama bersamamu, aku selalu berusaha untuk bisa memahamimu, untuk bisa menyeimbangimu. Tapi pernahkah kamu mencoba untuk memahamiku? Untuk menyeimbangiku? Atau aku sudah mulai lupa segala yang pernah kamu coba lakukan untukku? Karena malam ini, hampir-hampir segala kenangan yang muncul di hadapanku hanyalah tentang kamu yang begitu menyebalkan dan tak pernah mau mencoba memahamiku. Ataukah memang selama ini kamu tak pernah manis kepadaku? Kalau pernah, mengapa aku lupa?

Aku bahkan ingat wajahmu saat aku marah-marah protes tentang bagaimana buruknya kamu memperlakukan aku yang malah hanya kamu jawab dengan kalimat yang membuatku semakin sedih. ‘Karena itu kamu. Dan bukan wanita yang lain. Kalau wanita yang lain, aku gak akan jahat.’ Yang bisa kusimpulkan hanyalah dari sudut pandangmu aku memang layak diperlakukan buruk olehmu.

Mengapa aku tak bisa mengingat hal-hal manis yang pernah kamu lakukan untukku? Apa sekarang aku betul-betul sudah melupakan kenangan manis itu? Mengapa yang tinggal hanyalah kepedihan? Atau mungkin kamu membawa segala kenangan manis itu bersamamu saat keluar dari rumah ini malam itu?

Satu-satunya kenangan manis yang mampu ku ingat hanyalah aku pernah jadi alasan sekaligus tempat satu-satunya kamu kembali pulang. Itu mengapa aku masih saja terus duduk di sofa ini. Menunggumu mengetuk pintu rumah kita. Rumah kita yang sekarang menjadi sedingin pagi musim semi.

Mungkin kamu sudah menemukan rumah yang lain dan tak ingat lagi jalan menuju rumah ini. Yah itu mungkin saja. Nah.. Aku akan masuk ke kamar saja sekarang. Sofa ini semakin dingin.

Omong-omong…

Kamu, pernahkah sekali saja memikirkanku?

Aku… memikirkanmu. Selalu.

Selamat tahun baru, kamu. 

Tuesday, 27 November 2012


Sampai beberapa jam lalu aku masih berpikir bahwa semua akan kembali baik-baik saja, seperti dulu, seperti sebelumnya. Mengira kamu akan menyesal lalu segera memencet speed dial nomerku yang masih tersimpan dalam ponsel pintarmu. Berkata bahwa kamu salah telah membiarkan semua jadi begitu berantakan. Bahwa kita masih bisa memperbaiki segalanya. Bahwa tak sedetikpun mampu kamu lewati tanpa berpikir tentang kita. Tentang segala yang pernah kita punya. Lalu kemudian aku akan berkata bahwa itu semua sudah berlalu dan kita masih bisa kembali baik-baik saja dan melupakan segala sedu sedan yang tak perlu. Bahwa kita masih punya jutaan detik yang tersisa untuk kita. Bahwa kita akan kembali bahagia bersama-sama.

Dan kamu akan berterimakasih padaku karena tetap setia dan tak pernah pergi saat kamu bahkan sudah jauh meninggalkanku. Kemudian aku akan menjawab bahwa itu bukan apa-apa. Bahwa aku melakukan itu semua dengan tulus hati dan tak berharap apapun juga. Lalu kita akan tertawa-tawa lagi seperti dulu. Kamu akan bernyanyi lagi untukku. Dan aku akan menceritakan segala yang terjadi hari ini. Kita akan saling lempar untuk menutup telepon lebih dulu. Persis seperti dulu.

Well yeah. Aku terlalu banyak menyimpan kenangan yang tidak perlu sepertinya. Bahkan mungkin aku sama sekali tak pernah ada dalam daftar speed dial-mu. Karena saat ini, aku tahu bahwa kamu memang sudah melupakan segala konsep tentang kita. Bahwa bagimu konsep itu sudah jadi semacam hal yang kelewat usang. Jelas aku yang terlalu banyak menghabiskan waktu menonton drama Korea yang kadang kelewat mustahil. Memangnya ada cowok semanis figur yang berusaha ditampilkan oleh para aktor Korea itu? Bukan fisiknya tentu saja. Tapi sifatnya. Mengapa hal-hal di luar akal begitu masih laku dijual dan memiliki banyak penggemar? Aku salah satu penggemar setianya. Sayangnya.

Begini. Kamu bahagia bukan? Aku bukan ingin mendoakanmu selalu berbahagia. Aku hanya ingin bisa memaafkanmu. Memaafkan diriku sendiri. Memaafkan kita. Memaafkan segalanya yang pernah ada. Aku hanya ingin hatiku tenang. Tak lagi melulu soal kamu. Aku lelah. Jujur saja.

Pernah aku berpikir tentang menemui seorang hipnotis. Mungkin dengan begitu akan lebih mudah. Tapi tentu saja, aku takkan sanggup membayarnya. Harganya mahal bukan? Dan aku sedang dalam masa penghematan. Bukannya aku masih kepingin lebih lama lagi mengingat-ingat tentang kita atau apa. Hanya saja, rasanya aku gagal sekali kalau sampai membutuhkan jasa seorang hipnotis.

Aku lelah bahkan hanya dengan melihat namamu bertengger online di jajaran daftar nama teman-temanku. Aku lelah bolak-balik menghapus namamu dari daftar kontak ponselku. Aku lelah melihat segala hal yang bahkan tak ada kaitannya denganmu namun mampu membuatku teringat padamu. Aku lelah dengan semua itu. Aku lelah berurusan denganmu yang kini bahkan hanya serupa kenangan usang. Well yeah, tak bisakah kamu minggat saja dan pergi entah kemana?

Mungkin aku bisa memulainya dengan membencimu. Tapi dari mana aku harus mulai membencimu? Seharusnya patah hati punya buku panduan yang dimiliki oleh semua penderitanya. Setidaknya aku bisa mencontek beberapa tips.

Oh, hari sudah mulai tumbang. Aku harus pergi. Dan kamu? Yah terserah kamu mau melakukan apa. Memangnya tulisanku masih ada artinya buatmu?

Thursday, 4 October 2012

masih tentang kamu....


Hei, kamu. Masih di sana kah?
Bagaimana aku harus mengatakan ini? Bahwa tetiba saja aku sudah mulai memenuhi satu lagi dinding kosong yang sudah lama ku tinggalkan. Lembab. Baru saja ku sentuhkan telapak tanganku pada mukanya. Sudah selama itukah aku pergi?

Mungkin saja. Tapi, apakah kamu masih terus ada di sana? Seperti selama ini yang masih tetap aku kira-kira saja. Bahwa kamu masih di sana, duduk nyaman di atas sofa kesayanganmu sambil memandangi layaryang terus berpendar, membaca segala coretanku dengan tokoh utama dirimu sendiri. Atau mungkin kah kamu pun sedang menuliskan satu kisah kepada kisah lainnya yang sesungguhnya hanyalah tentangku saja?

Ummm, yah... kadang aku menerka-nerka.. apakah kamu lebih suka membaca atau menulis.. Apakah bila kamu lebih suka membaca, sukakah kamu dengan racauanku yang melulu tentangmu? Atau bila kamu suka menulis, apakah itu melulu tentangku? Karena jujur saja, kebanyakan racauanku yang tidak jelas ujung pangkalnya ini, selalu melulu tentangmu. Karena kamu memang masih tak berujung pangkal. Haha, maafkan aku karena memberikanmu predikat seperti itu.

Kelak bila kamu sudah berujung pangkal, aku pun akan tahu. Kamu juga. Apa sekarang ini kamu juga sedang menulisiku? Atau malah sudah berlabuh dalam mimpi indah di negeri antah berantah?

Nanti, ketika semesta menerima titahNya untuk membuat satu konspirasi yang akan mempertemukan aku dan kamu, ku harap... ku harap... ah entah. Aku tak tahu harus berharap apa. Kita lihat saja nanti.

Aku belum bosan untuk terus menulisimu. Meski terkadang aku menghilang begitu saja. Bukan berarti aku melupakanmu. Aku bahkan selalu menebak-nebak bagaimana kamu. Tak selalu sih, hanya sering saja. Aku tak mau kamu jadi besar kepala. 

Aku belum lelah berjalan menuju ke arahmu. Ku harap kamu pun begitu. Tak perlu berlari. Mari kita nikmati saja perjalanan ini. Layaknya perjalanan dengan kereta api senja yang lamat-lamat mengantarkan kita ke tempat tujuan. Entah di persimpangan yang mana kereta kita akan bertemu. Aku masih memegang tiketku erat-erat. Meski aku tahu akulah penumpang tunggal di keretaku sendiri. Entah. Hanya ingin memastikan bahwa tujuanku memang sesuai dengan yang tertera pada tiket yang masih ku jaga ini. Kamu?

Kamu, jangan menyerah ya... Begitupun aku.
Ketika permintaan 'saya sendirian dan mati lampu di sini, maukah kamu sebentar saja menemani saya?' menjadi tak lagi sederhana dan berakhir dengan tanpa jawaban, maka apalagi?

Maka segala yang saya butuhkan memang hanyalah Engkau. Saya bahkan tak membutuhkan deretan sepuluh angka untuk bisa berbicara denganMu. Saya bahkan hanya perlu berbicara saja, dan saya tahu Engkau selalu mendengarkan. Lalu mengapa saya masih saja berharap pada ciptaanMu untuk menemani saya bicara?

Padahal saya bisa selalu memintaMu untuk menemani saya. Bahkan sejatinya Engkau selalu bersama saya. Maka mengapa saya masih merasa sepi?

Tuhan, saya percaya padaMu. Saya percaya pada semua rancanganMu. Bahkan saya percaya Engkau sedang melihat saya mengetik ini sekarang, di kamar yang tanpa cahaya apapun selain pendar layar sepuluh inchi yang sebentar lagi pun akan redup.

Tuhan, saya gak pernah takut gelap, seperti sekarang, saat mati lampu begini. Saya juga gak pernah takut sendirian seperti sekarang. Saya hanya takut kesepian.

Tapi bersamaMu tak ada kesepian bukan? Seharusnya. Tapi Tuhan, barusan ada suara-suara yang saya tidak tahu itu berasal dari mana. Saya hanya takut kesepian....

Tuhan, saya tahu Engkau selalu menjaga saya... Tapi bolehkah saya minta seorang teman saja yang selalu bisa bersama saya? Bahkan dalam gelap padam listrik begini? Seorang teman yang akan menemani saya bahkan tanpa saya minta....

Tuhan, permintaan saya gak berlebihan kan?

Wednesday, 8 August 2012



I’ll become a flowerpot that sits on your small windowsill
Though I can’t speak or want anything at all
I’ll be able to see you smile and feel your touch once a while
And I’ll be the one gazing at your face as you sleep


Hai, kamu.


Apa kabar pagi? Pagiku menyenangkan. Ku harap pagimu juga menyenangkan. Ah tentu saja, bahkan aku sudah melihatmu tersenyum sejak baru saja datang tadi. Meski aku tak tahu apa yang membuatmu tersenyum begitu cerahnya di pagi yang lumayan dingin ini. Ah iya, aku memperhatikanmu, tentu saja. Seperti biasanya, setiap hari, sepanjang hari.

Seperti yang ku katakan tadi, pagiku menyenangkan sampai aku mendengar satu lagu menyedihkan yang diputar olehnya. Dia, orang yang duduk di sebelah partisimu. Ah kamu pasti tak memperhatikannya. Sedang aku? Aku punya waktu sepanjang hari untuk memperhatikan siapa saja yang ingin ku perhatikan. Dan pagi ini sebenarnya aku sedang sibuk memperhatikan orang-orang yang kembali datang ke tempat ini, tempat mencari penyambung hidup bagi beberapa orang. Beberapa orang lainnya ku perhatikan hanya mencari kegiatan untuk membunuh waktu saja.

Lalu kemudian kamu datang dengan senyum matahari pagimu itu. Kamu selalu begitu ceria dan bersemangat, mungkin karena kamu kelebihan dosis vitamin atau bagaimana? Hehe. Aku hanya bercanda. Hanya saja melihatmu setiap hari selalu seperti itu semakin membuatku memujamu. Dan asal kamu tahu saja, bukan hanya aku yang memuja-mujamu tapi ada seseorang yang bahkan diam-diam mencintaimu selama ini.

Well yah, dia yang duduk di partisi sebelahmu. Tentu saja kamu tak akan pernah sadar dengan perasaannya. Karena dia bahkan tak pernah berusaha untuk menyatakannya padamu. Bahkan untuk mengajakmu bicara saja dia tak pernah berani. Entah apa yang membuatnya begitu takut. Padahal dia selalu bercerita padaku kalau dia begitu menyukaimu dan segala macam itu. Itu dilakukannya setiap sore bila kamu sudah pulang. Bercerita padaku maksudnya, kalau soal menyukaimu dan segala macam itu dia lakukan setiap detiknya.

Sepertinya dia terlalu terbawa oleh lagu yang pagi ini diputar ulang entah untuk keberapa ribu kali olehnya. Apa kamu tahu? Lagu itu bercerita tentang seseorang yang bermimpi untuk bisa menjadi sebuah pot bunga di jendela orang yang dia cintai. Alasannya karena dia ingin bisa terus melihat senyum orang itu setiap hari. Meski dengan begitu dia jadi tak bisa berbicara atau melakukan apapun untuk menunjukkan perasaan pada orang itu. Baginya cukup untuk bisa melihat wajah orang itu tiap malam sebelum tidur, bisa merasakan sentuhannya setiap kali orang itu terbangun di pagi hari.

Ya, dia betul-betul ingin menjadi sebuah pot bunga. Sebuah pot bunga yang diam saja di jendelamu, berharap kamu melihatnya sesekali di sela waktu sibukmu itu. Aku tahu karena dia sendiri yang mengatakannya padaku pada hari pertama aku bertemu dengannya. Ku kira awalnya dia hanya bercanda. tapi lama kelamaan ku rasa dia benar-benar berkhayal begitu dari kesenangannya memutar lagu yang itu-itu juga. Padahal menurutku mudah sekali untuk mengatakan perasaannya padamu. Kamu kan hanya duduk di partisi sebelahnya? Hanya berjarak satu meter darinya? Aneh sekali.

Coba saja lihat sekarang, dia sedang diam-diam memperhatikanmu yang masih sibuk menyapa orang-orang di sana sini. Ku harap kamu sempatkan sedikit waktumu untuk menyapanya juga. Bukan aku mau mengatur-aturmu atau apa, tapi ada baiknya kamu memberinya sedikit perhatian untuk membuatnya bisa tersenyum juga sepertimu pagi ini. Ah, aku kasihan padanya sebenarnya.

Tapi lihat, bahkan ketika kamu sudah menyapanya pun dia hanya bisa diam mematung. Kenapa dia tak menyapamu balik? Sesulit itukah? Ku rasa dia sungguh-sungguh menghayati khayalannya untuk menjadi pot bunga. Tidakkah dia tahu bahwa kamu tak punya pot bunga di jendela kamarmu bahkan di seluruh sudut rumahmu? Tidakkah dia tahu bahwa kamu bahkan tak suka bunga atau tanam-tanaman apapun. Alasannya praktis, kamu tak punya cukup waktu untuk merawat mereka. Waktumu yang 24 jam sehari itu sudah kamu habiskan untuk kegiatan lain yang menurutmu jauh lebih penting ketimbang merawat bunga atau tanam-tanaman.

Dan tidakkah dia tahu bahwa meskipun kemudian khayalannya itu terwujud kamu bahkan hanya akan meletakkannya di jendela ruangan kantor yang digunakan bersama ini? Bahwa bahkan dia sama sekali tak akan pernah mampir di rumahmu untuk satu malam saja? Apalagi bermimpi bisa melihat senyummu sebelum tidur. Aku kasihan padanya. Sangat kasihan malah.

Seandainya aku bisa menjadi dirinya, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bicara padamu, mengatakan segala yang ingin kukatakan, segala yang mungkin hanya akan tersimpan selamanya dalam diriku. Aku yang juga memujamu sejak mula-mula tahu persis rasanya ditolak begitu saja olehmu. Padahal aku begitu bahagia di hari pertama berjumpa denganmu.

Namun yang terjadi adalah kamu langsung meletakkanku begitu saja di sini. Yah, seandainya dia tahu bahwa menjadi pot bunga sama sekali tak menyenangkan. Aku bisa jamin dia akan menyesal, aku tahu rasanya. Seperti rasa yang ku rasakan beberapa bulan lalu, hari pertama itu, hari aku dijadikan sebagai kado ulang tahunmu yang ternyata sama sekali tidak kamu harapkan.

Salahnya, bukan salahku, dia yang membeliku, mengelilingi tubuhku dengan pita warna-warni, untuk kemudian diberikan padamu hari itu. Dikiranya aku akan bisa mewakili dirinya ada di salah satu sudut jendela kamarmu. Yah, dia kurang beruntung, salah perkiraan.

Pada akhirnya aku hanya terduduk di sini, di salah satu sudut jendela ruang kantormu ini.

Dan dia, masih berani-beraninya berkhayal untuk menjadi pot bunga. Manusia malang.

Omong-omong, selamat pagi, kamu. 

Wednesday, 15 February 2012

[menepi]


Terkadang saya benar-benar mengira bahwa semua pertemuan pasti akan menjumpai perpisahan, cepat atau lambat. Diawali dengan sebuah pertemuan yang biasa saja. Saya berteman dengan si Pulan yang ternyata juga berteman dengan kamu. Lalu kemudian kita saling bertemu pertama kali karena si Pulan mengadakan suatu acara dan mengundang semua temannya. Jadi kita bertemu di situ dan berkenalan. Sebagai teman tentunya.

Dan seperti cerita kebanyakan yang dipersingkat dengan kalimat ‘hari berganti minggu, minggu berganti bulan’ yah begitu pula dengan cerita kita. Saya dan kamu berteman, bahkan jauh lebih akrab ketimbang kamu dengan si Pulan. Saya sendiri tak pernah mengira kita akan bisa sedekat itu. Mungkin karena kita punya hobi yang sama.

Kemudian kamu memutuskan untuk memberanikan diri mengutarakan apa yang kamu rasakan saat itu. Kamu merasa kalau sayalah wanita yang selama ini kamu cari. Sayalah wanita yang bisa membuat kamu merasa nyaman. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti, kamu hanya ingin mengatakan apa yang memang ingin kamu katakan saat itu. Yah, kamu memang terkadang kelewat jujur sampai saya jadi percaya semua yang kamu katakan adalah jujur.

Jadi kita memulai sesuatu yang baru. Bukan pertemanan yang kemarin. Saya jadi sering memikirkan kamu. Kita jadi semakin sering berkomunikasi. Saya tertawa pada apa saja yang kamu lakukan, apapun itu asal kamu yang melakukan jadi terlihat lucu buat saya. Bahkan kadang hanya membayangkannya saja sudah bisa membuat saya tertawa.

Kita jadi saling memanggil dengan panggilan lucu-lucu, panggilan sayang. Saya jadi semakin sering menulis tentang kamu. Menulisimu berlembar-lembar puisi padahal saya tahu kamu tak suka puisi. Kamu jadi tambah hobi berkaraoke lewat telepon genggammu dengan saya yang setia mendengarkan di ujung satunya. Kita jadi terlihat seperti sepasang kekasih yang benar-benar sedang jatuh hati.

Tapi kemudian kalimat ‘hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan blablabla’ itu kembali datang. Kali ini rasanya tidak menyenangkan seperti yang sebelumnya. Karena seperti alur cerita manapun, setelah klimaks kemudian akan disusul dengan antiklimaks sampai akhirnya selesai.

Kita tak lagi saling memanggil dengan panggilan sayang, mungkin pada akhirnya kita sadar kalau panggilan-panggilan itu terdengar konyol. Rasanya jadi aneh memanggilmu dengan segala panggilan itu. Tak ada lagi karaoke lewat telepon genggam di malam hari. Tak ada lagi puisi-puisi. Bahkan nomer teleponmu lebih sering absen ketimbang hadir di catatan log telepon genggamku.

Lambat laun segalanya mulai kembali seperti saat kita tak saling mengenal. Perlahan kamu menghilang. Mungkin kamu tetap ada di situ, tapi jadinya… biasa saja. Kamu ada atau tidak ada rasanya tak berbeda. Karena saya mulai terbiasa kembali sendiri. Atau mungkin, saya berusaha untuk terbiasa?

Saya lupa rasanya jatuh hati pada kamu. Mungkin memang itu yang kamu mau. Mungkin ini saatnya perpisahan dari pertemuan itu terjadi? Pertemuan yang akan menjumpai perpisahan. Saya tidak tahu. Saya hanya tahu kalau saya….

….rindu kamu..

yang dulu.