Dan ketika pada akhirnya aku terlalu lelah hanya untuk menguraikan satu lagi rantai rumit dan kokoh, aku hanya ingin merasakan jalin benang rapuh yang tipis dengan jari-jariku, dengan saraf perabaku, yang semoga belum kebal.
Dan ketika pada akhirnya aku terlampau pusing hanya untuk merangkai deret-deret bait yang sarat maksud tersirat, aku jadi cuma ingin mendengar celoteh ringan dari suara serak itu, dengan indra pendengarku, yang semoga belum pekak.
Dan ketika pada akhirnya aku terlampau pusing hanya untuk merangkai deret-deret bait yang sarat maksud tersirat, aku jadi cuma ingin mendengar celoteh ringan dari suara serak itu, dengan indra pendengarku, yang semoga belum pekak.
Dan ketika pada akhirnya aku kelewat buta untuk mengartikan guratan-guratanmu di atas kanvas putih yang kini penuh dengan banyak garis dan lengkung, membentuk sesuatu yang kelihatannya amat abstrak, yang menurutku hanyalah sebuah kumpulan warna tak berbentuk, dan masih saja tak tahu arti yang tersembunyi di baliknya.
Dan ketika pada akhirnya aku terhenti, terhenti dari segala yang bising, terhenti yang kadang bahkan kurang dari sedetik, tapi tak jarang juga seperti berjuta-juta detik, yang ku butuhkan hanyalah menepi, jauh dari orang-orang atau semua hal yang biasa ada di sekitarku, atau malah mungkin aku hanya perlu jauh dari kamu dan segala hal tentangmu.
Dan ketika pada akhirnya aku terhenti, terhenti dari segala yang bising, terhenti yang kadang bahkan kurang dari sedetik, tapi tak jarang juga seperti berjuta-juta detik, yang ku butuhkan hanyalah menepi, jauh dari orang-orang atau semua hal yang biasa ada di sekitarku, atau malah mungkin aku hanya perlu jauh dari kamu dan segala hal tentangmu.



