Sama kamu, kayak lagi main FTV.
Iya, betulan. Kamu tahu FTV? Film pendek yang alur ceritanya juga pendek, tapi kadang-kadang kelewat manis itu, kelewat mengada-ada. Film yang biasanya ditayangkan siang hari di televisi-televisi swasta. Yah kadang juga malam hari sih. Dan tetiba aku berpikir kalau sedang bersama kamu seperti sedang main FTV, bahwa terkadang ketika bersama kamu, aku seperti sedang main FTV. Seperti ada lampu sorot yang menyinari kita berdua yang entah sedang melakukan apa, dengan roll film yang terus berjalan seiring adegan yang kita lakukan berdua, sutradara yang terus memelototi kita seolah takut kita akan berbuat kesalahan yang tak sesuai dengan skenario, serta para asisten dan tukang-tukang lainnya yang ada di sekitar kita.
Hahaha, sebetulnya bukan seperti itu. Sama sekali aku tak merasakan ada lampu sorot dan sebagainya itu. Tetapi, yang terjadi pada kita yang membuatku berpikir sedang berada dalam sebuah FTV. Yang terjadi pada kita mirip dengan skenario-skenario yang biasanya muncul dalam film pendek itu. Yang aku kira tadinya hanya ada dalam skenario saja. Tetapi, sama kamu, adegan-adegan yang kebanyakan gula itu, ternyata ada nyata. Dan sama sekali tak terasa dibuat-buat, seperti terjadi begitu saja, tanpa skenario ataupun rancangan-rancangan. Mau tak mau aku jadi tersenyum, geli sendiri mengingatnya.
Kamu tak tahu bagian yang mana? Sungguhan? Sini, duduk di sini. Aku kasih tahu bagian mana saja yang membuat aku berpikir sedang ada dalam sebuah FTV. Oh, kamu boleh sambil menghabiskan agar-agar yang memang sengaja aku buat untuk kamu kok. Sembari kamu menghabiskannya, aku akan menceritakan bagian mana saja tadi. Ah tapi kamu harus berjanji untuk tidak tertawa. Lagipula, kamu yang membuat aku merasa seperti itu, seperti sedang main FTV, jadi kamulah pelakunya. Nah begini, kamu sudah siap untuk mendengarnya? Tak perlu melihatku seperti itu, fokus saja pada agar-agarmu, okay?