Tuesday, 3 September 2013

Rasa ini (?)

Dengan ketergesaan dan tanpa pertanda, begitu saja kau meletakkannya di lidahku, menungguku mencecapnya, seraya melihat air mukaku yang kebingungan menerka-nerka rasa apa yang baru saja kau letakkan.

Manis? Ia tidak terasa seperti gulali merah jambu yang sering dibelikan ibuku tiap kali kami berkunjung ke pasar malam hingga ia bisa dikatakan manis. Jadi bukan.

Asin? Ia tak serupa air laut yang seringnya tertelan begitu saja manakala aku asik berenang hingga ia bisa dikatakan asin. Jadi bukan.

Asam? Ia tak membuatku menjengit seperti tiap kali aku memakan mangga muda hingga ia bisa dikatakan asam. Jadi bukan.

Pahit? Ia pun tak membuatku ingin memuntahkannya kembali seperti puyer yang dipaksakan untuk ku minum manakala demam menyerang hingga ia bisa dikatakan pahit. Jadi bukan.

Lalu, rasa apakah ini? Lidahku masih mencecapnya. Masih menerka rasanya. Meminta otakku untuk menggali ingatan mungkin saja entah di tumpukan kenanganku yang menggunung itu pernah terekam rasa ini. Tapi tidak.

Sekali lagi ku coba rasai ia yang baru saja kau letakkan dengan terburu-buru di lidahku. Tapi setiba-tiba kau meletakkannya, setiba-tiba itu pula ia menguap. Lidahku mencecap hambar.

Monday, 2 September 2013

Pukul dua dini hari.

Pukul dua dini hari. Aku masih nyalang, kantuk sudah lama pergi. Lalu lintas di dalam sini kelewat bising.

Pukul dua dini hari. Seharusnya aku sudah sejak tadi terlelap. Namun seolah enggan, detak jarum jam mengiris ruang dengarku.

Pukul dua dini hari. Dan yang ku inginkan hanya satu, sejenak lupa akan semua dan jatuh tertidur. Mengapa jadi begitu sulit?

Pukul dua dini hari..

Tuesday, 27 August 2013

Geez

Suddenly, i think about you. You just pop up that way in my head. I even start to sleep when you suddenly pop up.

Hmmm, it's a little bit lonely here without you. Do you feel the same when i'm not around? Or is it just me?

Yet i don't know. And i don't want to know honestly.

But.... by chance, are you doing well? Is everything alright?

Hey! Take care. Okay?

Sunday, 25 August 2013

Tadi malam...

Semalam aku bermimpi.

Ada kamu.... yang sedang bersamanya.

Bahkan dalam mimpipun, kamu bersamanya.

Semalam aku bermimpi.

Tentang kamu yang sedang bersamanya.

Thursday, 15 August 2013

...

Kamu mungkin lupa, tapi aku akan selalu mengingatnya. Tentang hari ini.

This i promise you.

Yeah. This i promise you.

Tuesday, 13 August 2013

[untitled]





Bila kamu memutuskan untuk pergi, lantas aku bisa apa?

Kamu datang dengan tiba-tiba, seperti hujan yang mendadak deras di siang hari terik. Tanpa mendung atau awan yang mengabarkan kedatanganmu yang akan. Begitu saja dan basahlah seluruh tanah yang ku jejaki.

Ah tapi saat itu bukan musim panas ketika kamu datang tiba-tiba. Aku ingat, siang itu adalah siang pertama musim semi. Bukan, bukan musim panas gersang. Ya, siang itu adalah musim semi. Musim dingin yang baru saja berjingkat-jingkat pergi masih menyisakan kabut tipis yang dingin menggigiti kulit. Musim semi yang belum sempat merekah karena baru saja tiba. Seperti kuncup mawar yang baru akan mekar beberapa hari lagi. Tapi bukan hari itu.

Sunday, 11 August 2013

Because it's me.

"Kenapa putus? Aku salah apa?"

"Karena ternyata kamu sama saja dengan perempuan lain. Kita gak bisa bersama-sama lagi."

--------
"Kenapa kamu selalu jahat terhadapku?"

"Karena itu kamu. Bukan perempuan lain. Kalau dengan perempuan lain aku baik kok, gak jahat."

--------
"Kenapa kamu selalu kasar terhadapku? Padahal kamu bisa selembut itu memperlakukan dia?"

"Tentu saja berbeda. Kamu kan bukan dia."

--------
"Jadi sebenarnya seperti apa?"

"Sebenarnya kamu salah paham. Itu saja."

--------
Jadi aku salah paham. Begitu?

Yang aku pahami dari kamu, kamu, kamu, dan kamu, ya... dari kalian, lelaki-lelaki yang pernah mampir dan mencoret-coret halaman putih buku usangku, hanyalah bahwa aku tak layak untuk kalian perlakukan dengan baik.

Yang aku pahami dari kalian hanyalah bahwa memang salahku karena aku adalah aku, perempuan yang hanya pantas diperlakukan setengah hati atau bahkan tanpa hati.

Yang aku pahami dari kalian adalah bahwa aku tak cukup punya hak untuk mengetahui alasan mengapa aku bersalah karena aku adalah aku sehingga aku pantas diperlakukan dengan buruk sekalipun.

Dan aku cukup paham bahwa apapun alasan kalian untuk berlaku jahat, kasar, setengah hati, atau bahkan tanpa hati sekalipun, itu semua hanya alasan.

It's all okay. Aku masih tetap bisa menegakkan kepalaku ketika berjalan di depan kalian. Aku masih tetap bisa tersenyum manakala bersisian dengan kalian. Aku masih tetap bisa bertanya balik bagaimana kabar kalian ketika kalian menyapa.

Karena aku adalah aku.

Dan entah kapan atau dimana, aku yakin akan ada seseorang yang nantinya akan memperlakukanku dengan layak, dengan pantas, bukan karena seribu satu alasan, tapi karena aku adalah aku.

Dan selama itu, aku akan selalu baik-baik saja. Kalian toh hanya mampir saja. Bukan ingin menetap.

It's all okay.