Tuesday, 22 July 2014

Secarik Kertas Menunggu Pena

Lagi-lagi langit menumpahkan seluruh muatannya hingga buncah kepada bumi. Seperti aku yang tak lagi mampu menahan seribu rasa yang terus mendobrak untuk keluar.

Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan?

Seperti patung, aku hanya mampu membisu. Melihatmu terus berlari. Menelan segala tanya yang meruap memenuhi udara yang ku hirup hingga hampir mencekik tenggorokanku. Menahan bendungan asa yang kian lama semakin menggerogoti ulu hati. Bagaimanalah ini?

Seperti patung, aku takkan mampu bergeming. Memangnya aku punya pilihan? Sedang mereka tak lagi tahu yang ku tanggung seorang diri. Tidak juga denganmu.

Lalu apa lagi yang bisa aku lakukan?

Bila tanya yang lahir memang tak pernah membutuhkan jawab sejak awal mula, lalu aku bisa apa?

Bila hati yang melahirkannya pun melulu menutup diri dari segala jawab yang mungkin ada, lalu aku bisa apa?

Mengapa tak kau sudahi saja? Toh hanya membuat air semakin keruh padahal sedari kemarin aku sudah menahan diriku untuk tak lagi melemparkan apapun ke dalam sungai itu.

Lagipula, aku masih tahu jalan pulang. Entahlah denganmu. Atau mereka.

****
Hei, kamu.
Segini saja cukup?
Atau kamu masih inginkan lagi?

Thursday, 3 July 2014

Lagi-lagi aku merindukanmu. Dalam diam.
Padahal aku sudah bertekad untuk bisa melepaskanmu. Nyatanya, alih-alih ikhlas melepaskanmu, kamu malah tak pernah absen menjumpaiku dalam alam mimpi. Tak tanggung-tanggung, kamu datang setiap malam.

Sedang kamu, masih saja tak bergeming di sana. Lupa bahwa aku masih ada di sini atau memang tak lagi peduli? Harus berapa kali ku tulis kalimat yang itu-itu juga hanya supaya aku sadar bahwa aku memang tidak sepenting itu buatmu. Mengapa aku begitu menutup mata dan telinga?

Mengapa aku begitu membutakan diriku sendiri?
Mengapa?

Saturday, 17 May 2014

Maafkan aku.....

Maaf karena aku telah melibatkanmu.
Melibatkanmu dalam kehidupanku yang mungkin pada akhirnya membuatmu jadi sesak nafas.
Melibatkanmu dalam khayalan-khayalanku yang terkadang kelewat liar untuk bisa dikendalikan dengan nalar.
Melibatkanmu dalam mimpi-mimpiku yang sering kali tak berbeda jauh dengan dongeng negeri seribu satu malam.
Dan yang terakhir karena melibatkanmu dalam tiap doa-doaku yang kusisipi dalam tiap sujudku yang kuharap akan bisa terkabul pada saat yang telah ditentukanNya.

Melibatkanmu.
Betapa aku begitu terbiasa untuk melibatkanmu dalam segala hal dalam keseharianku.
Manakala melihat menu makanan baru yang terlintas adalah mungkinkah kamu akan menyukainya bila mencobanya?
Manakala mendengar satu lagu baru yang terpikir adalah apa yang akan kamu katakan bila mendengarnya?
Atau apalah lagi hal-hal remeh yang entah bagaimana malah membuatku berpikir tentangmu.

Padahal seharusnya, semestinya, seyogyanya, aku tak menjangkarkan hatiku sedemikian dalam kepada lautanmu. Demi diriku sendiri. Dan demi kamu.

Aku takut terbangun di satu pagi dan kamu tak lagi sanggup untuk selalu kulibatkan dalam segala tentangku. Aku takut bila satu ketika kamu memutuskan untuk berhenti dan melepaskan roncean ikatan yang kupasangkan di tanganmu. Seperti balon gas yang tetiba terlepas dari genggam tanganku. Terbang seketika itu juga ke angkasa luas. Dan aku hanya akan memandangimu saja tanpa mampu berbuat apa-apa karena bahkan gaya gravitasipun tak akan bisa menarikmu untuk kembali ke bawah sini, kepada gapaian tanganku. Mungkinkah akan seperti itu?

Aku begitu takut, aku begitu ingin.
Takut kehilanganmu. Selalu ingin bersamamu.
Tapi begitu jugakah yang kamu rasakan?

Jangkar hatiku terlanjur tertancap dalam di relung lautanmu. Sungguhkah tertancap disana atau delusikah ini?

Kamu, sudah lelahkah terlibat denganku?
Sudah bosankah terlibat denganku?

Ataukah lautan yang ku diami ini sejak mula-mula hingga akhirnya memang hanyalah untukku?

Sunday, 20 April 2014

Marry you...

Ya. Tetiba terpikir untuk menulis ini. Bukan karena hal khusus sih atau mungkin bisa juga begitu. Tapi sebetulnya saya sedang kebelet pipis saat memutuskan untuk menulis ini, barangkali bisa membuat saya lupa dengan kebelet pipis saya tadi. Ohya saya sedang dalam perjalanan pulang dari liburan singkat akhir pekan ini. Sejak tadi hujan dan saya di dalam bus ac. Sempurnalah segala faktor pemicu kebelet pipis.

Sudahlah, cukup deh yah membahas kebelet pipisnya. Entah bagaimana saya tetiba teringat kata-kata banyak orang di sekitar saya. Ya, tentang menikah tentunya. Si Anu bilang 'Kenapa sih belom nikah juga?' Si Itu bilang 'Makanya move on dong, nikah sana. Udah umur berapa coba?' Si Ini bilang 'Cepetan nikah. Ntar keburu tua. Mau punya anak umur berapa coba? Perempuan tuh makin tua makin susah punya anak loh.' Si TaukDehSiapaLagi bilang 'Iya loh, nikah gih trus punya anak jadi nanti kamu pensiun anakmu udah gede, udah selesai kuliah dan bla bla bla'

Begitulah kurang lebih yang harus saya dengar setiap hari. Bosan? Bohong banget kalau saya bilang saya gak bosan. Kesal? Wajar kali yah kalau saya kesal. Risih? Yaiyalah, pusing kali yah lama-lama dengarnya.

Iya memang betul, saya tau pasti pada mikirnya 'ih mereka ngomong begitu kan karena peduli kali sama luuuu. Lu aja yang gak sadar-sadar juga!' Iya saya tau kok. Saya tau orang-orang di sekitar saya bilang begitu karena peduli terhadap saya, atau ekstrimnya karena sayang sama saya (saya yang ge-er atau emang betul begitu bukan? Peduli kan tanda sayang. Bukan begitu?) Nah saya tau dan paham sekali kalau maksud semua orang yang pernah menasehati saya atau sekedar bertanya itu tujuannya baik. Saya paham sekali. Dan terima kasih banget karena sudah peduli sedemikian rupa terhadap saya.

Tapi lagi-lagi, ini adalah hidup saya. Pertama saya mau tanya, memangnya siapa sih yang gak mau menikah? Bohong banget kalau saya bilang saya gak mau menikah. Bahkan mungkin sejak saya masih lima tahun, saat awal mula masa-masa saya dicekoki oleh segala macam cerita dongeng tentang seorang putri dan pangeran yang selalu dan melulu berakhir bahagia, mungkin sejak saat itu saya pun punya mimpi untuk bisa berakhir bahagia dengan dinikahi oleh pangeran tampan saya. Saya kira banyak anak perempuan yang juga seperti saya. Putri dengan gaun cantik bersama pangeran tampan berkuda putih.

Hanya saja itu impian anak umur lima sampai sepuluh atau lima belas tahun yah? Meski setelahnya kisah putri cantik dan pangeran tampan berubah menjadi versi masing-masing yang lebih masuk akal. Saya sendiri punya mimpi untuk bisa bertemu pangeran saya yang meski belum tentu tampan tapi saya berharap bisa bahagia dengannya. Dan itu masih saya jaga sampai sekarang, sampai detik ini.

Bagi saya, bagi pemahaman dan mimpi saya yang hanya terbatas pada diri saya, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa diukur-ukur. Bahwa saya harus menikah pada saat umur saya segini atau segini. Bagi saya pernikahan haruslah terjadi ketika saya siap. Tapi itupun belum cukup, karena apalah artinya saya siap kalau tak ada seorangpun pangeran yang juga siap menikah dengan saya? Tak lantas saya bisa menikah sendirian bukan?

Misalpun ada seorang pria (sudah cukup menyebut-nyebut pangeran, saya hampir muntah ini) yang merasa dirinya siap untuk menikah, tak lantas dia siap untuk menikah dengan saya bukan? Atau sebaliknya.

Pernikahan manusia, tentunya berbeda jauh dari perkawinan misalnya kucing. Pernikahan manusia bukanlah sekedar kawin lalu bereproduksi dan punya anak sebanyak-banyaknya. Bukan seperti itu kan?

Pernikahan itu sendiri, menurut pemahaman saya yang awam ini, adalah salah satu tanggung jawab terbesar yang diambil manusia sepanjang hidupnya. Memiliki seorang anak atau lebih merupakan salah duanya. Keduanya adalah tanggung jawab yang amat besar.

Jadi pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa diukur dengan umur, dengan angka-angka. Memiliki anak apalagi.

Saya sungguh punya mimpi sendiri. Bahwa nanti saya akan menikah dengan seorang pria yang betul-betul mencintai saya. Yang betul-betul ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama saya. Dalam segala macam keadaan. Seorang pria yang mungkin akan mengeluh karena saya kurang mampu merapikan rumah tapi akan tetap memaafkan saya dan ikut membantu saya. Seorang pria yang mungkin agak kurang romantis pada saya tapi saya akan selalu bisa memakluminya asalkan dia selalu mau berusaha memperbaiki diri. Atau entah apa lagi. Seorang pria yang memang benar-benar siap menghabiskan sisa hidup dengan saya. Seorang pria yang tak hanya menjanjikan akan membahagiakan saya dunia akhirat, tapi juga mengusahakannya.

Saya akan menikah karena itu. Bukan karena saya harus segera punya anak sebelum umur tigapuluh atau karena orang-orang akan bilang saya perawan tua. Saya toh tak pernah merasa bahwa wanita hanyalah alat reproduksi yang hanya menambah jumlah manusia yang sudah banyak ini di dunia.

Bukan. Jangan salah paham dulu. Saya bukan mengatakan kalau orang yang menikah bertujuan punya anak itu salah. Enggak loh. Saya gak bilang gitu. Saya juga kepengin punya anak sendiri. Anak yang lahir dari rahim saya sendiri, dari benih pria yang saya cintai. Tapi tak lantas, semestinya, buat saya itu saya jadikan alasan saya menikah. Bukan seperti itu.

Karena itu, saya bukannya tidak ingin menikah. Apalagi punya anak. Saya sungguh ingin menikah dan punya anak.

Hanya saja, saat ini belum waktunya untuk saya merasakan keduanya. Jadi tolong, alih-alih bertanya soal yang itu-itu saja, alangkah saya akan lebih berterimakasih bila diganti dengan mendoakan saya agar saya dimudahkan, agar saya bisa seperti yang lain. Begitu mungkin lebih bisa menyejukkan hati.

Bukannya saya sedih selalu ditanya seperti itu. Saya hanya tak tahu lagi harus menanggapi apa. Setiap orang punya takdirnya masing-masing, yang mesti kita lakukan ya hanya menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Berusaha, berdoa, dan berserah. Hidup yang diberi Tuhan hari ini, nikmat Tuhan sehari ini lagi, semoga itu bisa mencukupkan rasa syukur kita padaNya tanpa melulu mempertanyakan yang bahkan belum terjadi.

Saya percaya bahwa rancanganNya, takdir yang sudah dituliskanNya untuk saya itu indah. Jauh lebih indah dari yang mampu saya impikan. Jadi kamu kamu kamu dan kamu, tenang saja, tak usah bertanya seperti di atas itu, tolong saja doakan saya untuk selalu bisa bersyukur dan berserah pada Tuhan. Terima kasih untuk itu.

Sementara itu, saya akan selalu menengadahkan tangan, memohon padaNya yang maha membolak-balik hati, agar selalu menguatkan hati pangeran saya hingga dia siap nanti. Tolong sampaikan padanya ya Rabb, saya masih menunggunya di sini.

Nah sampai di mana saya sekarang? Sepertinya saya sudah lupa kalau tadi kebelet pipis? Tapi gak sih, masih kebelet pipis. Untunglah tol sedang tak begitu ramai. Fiuhh...

Thursday, 17 April 2014

Gapuraning Rahayu, Kp. Rambutan - Pangandaran

Aku bahagia. Bahkan hanya dengan melihatmu tertidur pulas di sampingku. Meskipun aku iri juga, bagaimana caranya kamu bisa tertidur dengan hawa panas seperti ini? Udara yang terperangkap dalam ruang sempit ini hanya berputar-putar di situ-situ saja. Membuatku ingin melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuh. Tapi sayang aku tak bisa melakukannya.

Kamu masih tertidur lelap di sampingku ketika aku menuliskan ini. Sesekali ku lirik lampu dengan sinar biru yang berkeredep. Katamu sinarnya cukup menerangi tapi juga cukup nyaman untuk tidur. Cocok sekali untuk menjadi lampu kamar tidur. Begitulah.

Aku tak sabar menunggu esok tiba, melakukan berbagai rencana yang sudah ku persiapkan. Melihatmu terpesona akan kejutan yang ku harap mampu membuatmu jatuh hati. Tak sabar untuk segera merasakan sensasi adrenalin yang meningkat cepat, deras sederas sungai di musim penghujan. Tak sabar untuk membagi segala yang telah ku rasakan, yang telah ku alami.

Tapi aku masih harus sabar, hari pun masih sore. Aku masih akan bersabar seperti yang selalu. Seperti yang selama ini. Seperti yang telah. Seperti pintamu, meski aku bahkan sudah melakukannya jauh sebelum itu. Aku akan selalu sabar. Seperti aku bersabar menunggu doaku terjawab satu-satu. Doa yang ku panjatkan dalam tiap sujudku, dalam tiap leretan ingatanku tentangmu, tentang kita. Setiap kali setiap hari.

Aku tahu, bahwa hidup tak selamanya. Bahwa gagasan tentang 'kita' pun mungkin saja akan retak di tengah jalan. Atau mungkinkah kita akan tetap bergandengan sampai ujung jalan itu? Tapi hidup tak pernah akan jadi selamanya. Karena kehidupan ini tak abadi. Walau begitu, itu tak mengapa.

Aku ingin belajar untuk memahami dan menerima dengan hati ikhlas bahwa bisa jadi nanti jalan kita akan bercabang. Ketika aku memilih ke kanan dan kamu memilih ke kiri. Atau sebaliknya. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi toh bukan berarti kita tak bisa menikmati hari ini kan? Bukan berarti kita jadi lupa untuk mensyukuri apa yang kita dapatkan sekarang kan? Hidup toh begitu indah.

Ya, hidup ini indah. Indah sejak dahulu, sejak sebelum kita bertemu untuk kali pertama. Pertemuan kita yang pertama itu, di sebuah kota kecil dengan udara yang cukup panas. Jujur saja setiap kali aku teringat tentang hari itu aku selalu tertawa, masih saja heran dengan diriku sendiri yang begitu gila-gilaan mencintaimu sekarang ini. Padahal saat itu kamu betul-betul gak oke, kamu bukan tipe pria yang akan membuat para wanita terpesona pada pandangan pertama. Juga pada pandangan kedua atau ketiga.

Tapi begitu aku lupa sejak kapan aku jatuh hati berkali-kali kepadamu. Sejak pandangan yang keberapa? Sejak pertemuan kita yang keberapa? But who's counting anyway?

Nyatanya, jatuh hati bukan statistik yang bisa diukur, bukan matematika yang bisa dikalkulasikan. Keberapa, sebanyak apa, sedalam apa, sebesar apa. Jatuh hati hanyalah jatuh hati. Terjadi begitu saja. Beberapa mungkin bisa mengingat bagaimana mereka jatuh hati pertama kali, beberapa mungkin lupa meski tak pernah bermaksud untuk itu. Aku? Entah lah apakah aku bisa mengingat pertama kali jatuh hati padamu? Atau tidak?

Mungkinkah itu ketika senja menjelang malam di kicir raksasa pinggir laut Jakarta? Ketika itu kita sedang berada di puncaknya, aku begitu jatuh hati dengan segala gemerlap lampu taman bermain itu, dengan latar belakang laut yang maha luas dan lepas. Mungkinkah saat itu aku sebetulnya jatuh hati padamu alih-alih pada gemerlap lampu?

Atau mungkinkah ketika malam itu, satu dari sekian malam yang kita habiskan bersama. Malam-malam kita menghabiskan waktu untuk saling menatap layar komputer jinjing kita. Malam itu entah apa yang jadi topik perbincangan kita sampai-sampai tiba pada saat kamu harus mengucapkan terima kasih kepadaku dengan gaya kokoh-kokoh lengkap dengan bungkukan kepala dan kepalan tangan. Aku masih ingat wajahmu saat melakukan hal itu. Tak sanggup menahan tawa saat kamu melakukannya. Rasanya lucu sekali melihatmu begitu.

Atau entahlah sejak kapan. Aku tak ingat persis kapan jatuh hati kepadamu pertama kali. Yang aku tahu hanyalah sejak saat itu, sejak kali pertama aku jatuh hati padamu, sejak itu aku berkali-kali jatuh hati padamu. Kalau kamu tanya mengapa, aku sendiri tak tahu mengapa. Padahal sebetulnya kamu masih gak se-oke itu juga bukan? Kamu yang sama sekali gak romantis, cuek, dan cenderung masa bodoh terhadapku.

Tapi seolah aku sungguh dibutakan. Entahlah. Aku hanya begitu larut jatuh hati padamu. Ataukah aku hanya takut memulai hidup dengan ketiadaan eksistensimu dalam keseharianku? Rasanya membayangkannya saja aku sudah menggidik.

Hanya saja aku tak boleh terlarut terlalu jauh seperti yang selalu kamu bilang bukan? Kamu seolah membentengi hatimu agar tak luber kemana-mana. Bendungan yang menahan perasaanmu itu, mungkinkah aku mampu menghancurkannya? Membuatnya mengalir dengan sewajarnya. Seperti sungai hatiku yang kubiarkan menderas setiap kali.

Kamu seolah takut untuk menjadi carut marut ketika segalanya tak berjalan seperti yang diharapkan. Atau kamu hanya sedang memagari hati dan dirimu dari apa yang mungkin terjadi? Padahal bisa jadi kebahagiaan besar lewat di luar batas pagar besimu.

Ah sudah, aku mengantuk juga melihatmu masih saja terlelap. Aku akan mencoba tidur juga. Mungkin begitu. (09.02 PM)

Baru sebentar dan aku sudah kesal. Tak bisakah kamu bersikap sedikit lembut? Atau memang kamu tak pernah bisa? Menyebalkan. (10.12 PM)

Tuesday, 18 February 2014

Are we together?

Asalkan kita tetap bersama, tak ada tempat yang mustahil untuk dikunjungi.
Puncak gunung yang mana yang mau kita daki?
Lautan yang mana yang akan kita selami?
Air terjun mana lagi yang akan kita nikmati?

Asalkan kita tetap bersama, tak ada tempat yang tak bisa kita kunjungi.
Kota tua nan menawan dengan seribu candi?
Kota modern nan menyilaukan dengan gedung-gedung pencakar langit?
Ataukah keduanya?

Asalkan kita tetap bersama, tak ada tempat yang terlalu jauh untuk dikunjungi.
Berjemur di pulau-pulau eksotis nan indah di ujung timur matahari terbit.
Minum kopi di salah satu kedai di kota-kota dengan segala hiruk pikuknya bahkan hingga ketika matahari sudah jatuh tumbang.
Ataukah hanya duduk-duduk saja di beranda depan rumah kita?

Asalkan kita tetap bersama, tak ada tempat yang terlalu jauh, terlalu dekat, mustahil, atau apapun.

As long as we are together...

Friday, 20 December 2013

Pergilah saja....

Kamu tahu? Rasanya aku ingin berteriak, ingin memaki sekuat yang aku mampu lakukan. Rasa yang masih ku sembunyikan hingga kini, hampir meledak seperti gunung berapi yang memuntahkan lahar panasnya. Meledak serupa letusan gunung berapi yang tak lagi mampu menanggung panas yang bergejolak di dalamnya. Kini aku bisa bersimpati pada gunung-gunung berapi itu. Betapa mereka bersusah payah menanggung segalanya sampai akhirnya menumpahkan beban panas begitu saja.

Aku mendidih. Mendidih melihatmu datang dan pergi sesuka hatimu. Mendidih merasa menjadi hanya sekedar tempat persinggahan sesaat untuk kemudian kamu tinggalkan lagi. Itupun hanya bila kamu menginginkan untuk singgah di sini. Bahkan terminal bus masih lebih baik karena disinggahi secara teratur dan terjadwal. Sedang aku? Apa aku yang sebenarnya buatmu? 

Aku mendidih. Mendidih ketika bahkan kamu tak sempat membalas satu pesan singkat yang ku kirimkan. Pesan singkat yang buatmu hanyalah sampah. Bahkan sampah masih punya arti, lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Oh ya tentu saja aku tak lupa kalau kamu sibuk 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kamu bahkan sibuk 60 detik semenit. Atau sampai nanodetik pun sibuk? Sampai kamu bahkan tak sempat membalas pesan singkat yang ku kirimkan. Pesan singkat yang buatmu hanyalah sampah.

Aku mendidih. Mendidih ketika bahkan aku sama sekali tak menempatkan perasaanku kepadamu dan kamu memperlakukanku tanpa perasaaan, tapi aku malah mendidih seperti ini. Ku katakan ini padamu, bahwa aku sama sekali tak pernah mencintaimu, merindukanmu, atau apapun itu hal cengeng yang biasanya sering aku lakukan di masa lalu. Tidak. Tidak lagi seperti itu, terutama terhadapmu. Tapi meski begitu, aku masih saja mendidih. 

Aku mendidih. Mendidih karena aku menjadi terbiasa untuk diabaikan. Terbiasa untuk tak didahulukan. Terbiasa untuk tak dianggap ada. Tak penting. Mendidih karena aku membiarkan diriku menjadi seperti itu. Mengapa? Mengapa aku jadi seperti itu? Mengapa aku harus mengemis padamu? Bahkan ketika kamu bukan apa-apa buatku, kamu bukan siapa-siapa, kamu bahkan tidak seberharga itu. Tapi mengapa?

Apakah aku sudah semenyedihkan itu? Apakah aku sudah separah itu? Apa yang harus aku lakukan? Tak bisakah aku lupa ingatan saja tentangmu? Semua tentangmu hilang begitu saja. Tak bisakah?

Ingatkah kamu malam itu? Ketika aku bertanya padamu, ‘akankah kamu berusaha untuk membuatku mengingat tentangmu lagi bila aku tetiba lupa ingatan?’ Dan jawabanmu seperti yang sudah aku kira. Bahwa kamu tak sudi repot-repot untuk mengembalikan ingatanku. Maukah kamu untuk tetap seperti itu bila aku sungguh lupa ingatan? Ku mohon, biarkan saja aku tak lagi mengingat segala tentangmu. Tentangmu yang saat ini ingin sekali ku lenyapkan.

Ingatkah kamu malam itu? Ketika kamu bertanya, ‘haruskah aku pergi selamanya dari hidupmu?’ Malam itu aku tak bisa menjawabnya. Sekarang, bila aku memintamu untuk pergi, bisakah kamu untuk tak pernah kembali lagi? Sama sekali? Jangan pernah lagi datang padaku. Apapun yang terjadi padamu. Atau apapun yang ku katakan padamu bila tetiba aku memintamu kembali. Jangan pernah lagi, meskipun sekali. Meski aku meminta, memohon, dan merajuk padamu. Jangan pernah lagi, meskipun sekali. Meski kamu begitu menginginkannya, meski kamu tak tahu lagi kemana harus pergi kecuali kepadaku. Jangan pernah lagi, meskipun sekali. Bahkan jangan pernah memikirkan ide untuk datang lagi. Pergilah.. dan jangan pernah kembali.

Karena aku sudah lelah. Aku lelah menangisi diriku sendiri yang semakin tak ada artinya di matamu. Aku lelah mengutuki diriku sendiri yang setiap kali luluh lagi. Aku lelah menjadi seperti ini. Apapun namanya. Aku lelah menyia-nyiakan hidupku untuk hal semu yang kamu kepulkan di sekelilingku. 

Pergilah… dan jangan pernah kembali.

Meskipun sekali.

Meskipun sesaat.