Sunday, 10 August 2014

Congrats, you..

Melihatmu tersenyum begitu bahagia di sana. Tak pelak lagi membuat hatiku juga penuh. Penuh dengan rasa bahagia yang hampir tak mampu aku terakan dengan roncean kata yang paling indah sekalipun.

Bagaimana tidak? Selama dua jam lebih kamu terus menerus tersenyum. Senyuman itu. Senyuman yang dulu selalu membuatku luluh dan lupa dengan amarah seketika itu juga. Cengiran lebih tepatnya. Bagaimana aku bisa lebih bahagia dari ini?

Meski mungkin setelah ini tak akan lagi aku bisa mengganggumu dengan telepon-teleponku yang seringnya berisi tangis sedu sedan itu, entah tentang apa lagi. Aku juga tahu diri untuk tak lagi mengganggumu kan? Sudah sudah, aku sedang tak ingin bercerita muram durja seperti kaset lama.

Hari bahagiamu ini biarlah hanya diisi dengan senyuman. Hari yang akan selalu kamu kenang sepanjang sisa hidupmu. Bersamanya. Yang semenjak tadi juga tersenyum sumringah. Cinta yang terpancar di matanya itu, cukup untuk membuatku yakin bahwa dia memang yang terbaik untukmu. Bahwa kalian memang tercipta untuk bersama.

Maka, tak ada yang lebih indah dari sebait doa yang ku panjatkan untukmu dan dia, semoga senyum kalian hari ini akan selalu menghiasi kehidupan kalian berdua. Selamanya.

Selamat untukmu, sahabat.

Monday, 4 August 2014

Yeah. I messed up everything.
Is there something that i can handle well enough, eh?

I messed up everything.
I messed up everything that i can not fix.

Like my heart.
And maybe, yours.

Saturday, 2 August 2014

Jangan pergi.... Jangan menghilang lagi...

Aku tahu, jauh itu bukan tentang jarak, tapi tentang hati.

Seperti saat ini, ketika jarak kita terbentang puluhan atau bahkan ratusan kilometer. Tapi bukankah jarak hanyalah kumpulan angka yang diulang-ulang sedemikian rupa hingga mengular sejauh yang mampu kamu ukur dengan satuan panjang? Repetisi dari satu langkah kecil kepada langkah kecil berikutnya.

Jauh itu bukan tentang jarak. Karena sejauh apapun bentangan yang menganga antara aku dan kamu, ketika bentang itu masih berupa deretan angka, itu bukanlah apa-apa.

Jauh itu tentang hati. Ketika jarak kita bahkan hanya bilangan sentimeter, tetapi hati kita tak lagi mampu saling bertukar cerita, ketika itulah jauh menjelma nyata. Sejauh yang tak lagi mampu ku ukur-ukur dengan satuan apapun. Sejauh matamu yang tak lagi mampu melihat ke dalam mataku. Sejauh tanganmu yang kini terlipat rapi dalam saku celanamu, tak tergenggam tanganku yang mulai mati rasa digigit dingin.

Jauh itu tentang hati, bukan tentang jarak. 


Bila begitu, masih bolehkah aku untuk memintamu agar tetap di sini saja?

Friday, 1 August 2014

Aku lupa bahwa di antara kata 'aku' dan 'kamu', seharusnya tak boleh terlahir kata 'pinta'. Karena kata 'beri' tak pernah kamu ijinkan untuk sekedar mampir.

Lalu...
Mengapa masih saja aku meminta apa yang takkan pernah kamu berikan?

Ya, kamu bisa melanjutkan lagi kehidupanmu yang menarik itu.
Tanpa aku.
Juga pintaku.

Kunang-kunang

Hampir petang,
dan kunang-kunang mulai terbang.
Saling adu cemerlang,
berharap mampu saingi bintang-bintang.

Aku terpesona,
dan kamu terkesima.
Larut dalam gelap yang memerangkap.

Seekor kunang-kunang hinggap di ujung sandal gunung yang sejak kemarin lusa tak lelah tergesek jejak.

Aku menghitung kunang-kunang jantan yang masih semangat menari-nari.
Kamu terduduk entah memikirkan apa.

Ku hitung lagi.
Kelipnya semakin nyala.
Hitungan kelima belas dan buyarlah sudah.

Petang ini, masih kah mereka menari-nari?
Petang ini, sudahkah kamu lupa semua?

Hei, kamu. Iya. Kamu.

"Aku suka tulisanmu tentang seseorang di kereta?"

"Hm? Seseorang di kereta?"

"Iya. Tentang seseorang yang masih terus percaya bahwa pada akhirnya ia akan menemukan belahan jiwanya."

"Memangnya aku pernah menulis seperti itu?"

"Iya. Yang endingnya kurang lebih 'aku masih memegang tiket keretaku, memastikan bahwa tujuanku memang benar. Apa kamu juga masih memegangnya?' Yah kurang lebih seperti itu. Aku tak ingat pasti."

"Ahhh yaaa... Aku ingat sekarang. Seseorang di kereta, si penumpang tunggal di keretanya sendiri."

"Iya."

"Aku juga masih terus di keretaku. Ah mungkinkah kita akhirnya bisa bertemu?"

"Hm?"

"Tentu saja tidak. Bukankah yang kamu pegang sekarang tiket pesawat? Dan bukan tiket kereta? Ya kan?"

~~~~

Kamu tahu, begitupun hatiku tahu. Aku di dalam keretaku, menuju stasiun tujuanku. Sedang kamu di pesawatmu menuju bandara tujuan singgahmu.

Yang aku tak tahu adalah, apakah setelah aku sampai di stasiun itu aku akan melanjutkan perjalananku entah menuju kemana lagi? Seperti juga denganmu, sesampainya di bandara itu, lantas apa yang akan kamu lakukan kemudian?

Mungkin memang kita takkan pernah bisa bersinggungan dalam perjalanan masing-masing. Meski bisa saja ternyata kita punya tujuan akhir yang sama.

Namun demikian, bilapun tujuan kita ternyata sama, aku pun masih tak tahu apakah kita bisa sampai bersamaan dan akhirnya bertemu di sana atau lagi-lagi hanya berselisih jalan?

Kita tak pernah tahu ke mana takdir akan membawa. Begitupun dengan aku, dengan kamu.

Bukan. Aku tidak sedang mereka-reka akan seperti apa nanti. Jalinan benang takdir terlalu rumit untuk bisa ku pilin dengan jari.

Selain itu, aku cukup mengerti seberapa dalam kamu pernah terluka. Luka hati yang masih saja kamu bawa hingga kini. Entah racun apa yang pernah kamu telan hingga membirukan sedemikian rupa hatimu yang tak nyata wujudnya itu. Kamu toh tidak sedang berlebihan memuja kesakitan bukan?

Dan kamu juga cukup memahami apa yang tertera di permukaan hatiku yang lebam ini. Hingga mungkin tak perlu lagi kata untuk ku letakkan di dalam bibirmu tentang carut marut yang masih membuatku mati rasa.

Aku masih di keretaku, dengan setumpuk kenangan yang masih mengepul, panas dan berkabut. Kamu pun masih di pesawatmu dengan sebongkah hati yang kamu bilang sudah tak lagi berfungsi.

Lalu yang bisa ku lakukan hanyalah mengucapkan selamat jalan dan berhati-hatilah meski mungkin kini kamu tak lagi punya hati.

Dan ku rasa meski kita berpergian dengan cara berbeda, bukan tak mungkin kita akan bertemu. Suatu saat nanti. Atau mungkin tidak sama sekali.

Yah, toh aku masih di sini, memegang erat tiketku seraya mencoba mengusir kabut kenangan agar pemandangan di luar mampu ku nikmati.

Saturday, 26 July 2014

Kamu. Satu kali saja, hanya satu kali saja. Tak bisakah melupakan egomu satu kali saja?

Atau memang sudah tak relevan lagi dengan segala tentangmu? Begitukah?