Tuesday, 19 February 2013

Tahu Rectoverso?

Tahu. Bukunya Dee?

Iya. Katanya dibuat movie. Gw juga baru tahu sih...

Oh begitu? Jadinya gimana tuh? Kan cerpen?

Iya, semacam kayak Love Actually.

Oh...

Iya. Eh gitu aja sih.

Nanti nonton ah, kan gak perlu susah-susah lagi kalo mau nonton. 
Gak perlu naik motor tiga jam buat ke bioskop.

Iya.


(Saya kira saya gak tahu apa yang barusan saja saya pikir. Buat apa juga saya bertanya soal ini kepada kamu? Apa sih yang saya pikirkan? Berpikir kamu akan berkata, 'oh ya? let's go to the theatre together then, watch the movie'. Oh God why..... I ruined my own day....)


Thursday, 14 February 2013





How should I say this? I feel sooooo happy for you. I really do. It’s just like a dream come true. Your dream. And honestly my wish too. I’m wishing for this, from start to end, wishing you can reach your dream, wishing you can make your dream comes true. I don’t know what to say for more. I just feel like I wanna scream aloud. I feel like my eyes are full of tears that can drop anytime. I want to cry aloud. After this you can just go from that place, just fly to catch your future, your dream, your hope.

I’m so happy bout this even if I’m not a part of it anymore or whatsoever. I know it. I just cant block this feeling which flows inside my heart. I’m so happy that I feel like I want to cry.

I don’t know what to say for more.

In the end I just wanna hug you. Or maybe just want to see you smile happily.

Congratulation, you….

Monday, 11 February 2013




Kamu… serupa lollipop, berwarna warni, manis, kadang kelewat manis.

Iya, kamu betul serupa lollipop. Lollipop pelangi yang pernah kamu belikan untukku. Sedang aku persis anak perempuan umur tiga tahun yang terus saja merajuk untuk segera dibelikan lollipop itu. Detik berikutnya aku sudah terbius warna-warni cantik yang meliuk-liuk di seluruh permukaannya, mengira-ngira akan semanis apakah rasanya. 

Aku terus saja membawanya ke sana dan ke mari, kemana-mana. Memegangnya dengan penuh rasa sayang, menjaganya seraya memamerkannya kepada siapa saja yang kebetulan melintas. Begitu bangga mana kali ada mata lain yang iri melihat lollipop yang kupegang.

Aku begitu menyukai lollipopku itu. Meski pada akhirnya aku tak pernah tahu bagaimana rasanya. Karena tebak? Aku tak ingat di mana aku meletakkannya terakhir kali. Lollipopku hilang. Seperti kamu.

P.S. : Saya tidak sedang membicarakan kamu. Iya, kamu. Well, kamu boleh mengaku kalau kamu selalu mengira kamulah yang saya bicarakan. Meski nyatanya, bukan. Well, kadang-kadang iya. Tapi bukan kali ini. Demi lollipop-lollipop yang ada di muka bumi, kamu itu gak manis. Gak pernah manis. Meskipun satu kali.

Thursday, 7 February 2013

Kumohon, pulanglah....


Sudah hampir setengah jam Inong duduk di pinggir jalan itu, menunggu Emak  yang belum juga pulang. Kepangan rambutnya sudah tak jelas lagi bentuknya, kusut di sana sini. Matanya sampai kebas karena kelewat awas memperhatikan setiap orang yang berlalu-lalang. Panas badan dan pusing kepala yang masih tersisa tak dirasakannya. Inong hanya ingin Emak pulang.

Sebenarnya Emak adalah neneknya. Nama Inong sendiri adalah nama neneknya. Sejak lahir Inong belum diberi nama, hanya karena dirawat oleh Mak Inong maka orang-orang memanggilnya Inong. Ibu kandungnya sudah lama pergi. Empat puluh hari setelah Inong lahir, ibunya langsung meninggalkannya untuk pergi merantau. Menjadi TKI kata Emak. Sedangkan ayah kandungnya, bahkan Emak pun tidak pernah tahu siapa. Emak hanya berkata pada Inong bahwa ayahnya sudah meninggal. Jadilah sejak itu kedua nenek-cucu tinggal bersama. Saling memiliki, yang satu adalah satu-satunya milik yang lain. Dan enam tahun sudah berlalu sejak saat itu, Inong begitu menyayangi Emak, begitupun tak pernah terlewat seharipun Emak bersyukur pada Allah telah diberikan seorang malaikat kecil semanis Inong.

Tadinya Inong dan Emak tinggal di sebuah rumah kayu yang sudah reyot di bantaran sungai Ciliwung. Namun banjir beberapa minggu lalu membawa hanyut rumah mereka dan segala yang mereka punya, bahkan harapan juga mimpi Inong yang rencananya akan masuk sekolah tahun ajaran baru nanti. Tapi banjir menghanyutkan semuanya, tanpa sisa. Sekarang mereka tinggal di sebuah rumah kardus, masih di bantaran sungai Ciliwung. Inong dan Emak tak punya banyak pilihan. Semuanya hanyut, hanya baju yang menempel di badan saja yang tersisa.

Emak yang biasanya berjualan pisang goreng kini beralih menjalani pekerjaan lain yang tak memerlukan modal uang tetapi hanya modal tenaga, yaitu pemulung sampah. Setiap siang sampai menjelang malam Emak pergi mengumpulkan sampah plastik untuk kemudian  dijual kepada juragan. Emak mencari dimana saja, di terminal, stasiun, jalanan. Mencari hampir di mana saja dan apa saja. Botol kemasan minuman, botol kemasan shampoo, gelas-gelas plastik, kardus-kardus bekas, apapun yang laku dijual.

Sesampainya di rumah kardus, Emak membereskan hasil cariannya dengan dibantu Inong kalau bocah kecil itu belum tidur. Mulai dari memilah-milah sesuai jenis, sampai membersihkan sisa-sisa yang masih ada di dalam botol lalu menjualnya kepada juragan esok paginya untuk kemudian hasil penjualan tersebut dibelikan makanan untuknya dan Inong.

Biasanya Inong ikut Emak memulung sampah. Hanya saja beberapa hari ini Inong demam dan Emak memaksanya untuk tetap di rumah dan beristirahat. Padahal Inong begitu suka tiap kali ikut Emak. Inong suka melihat gedung-gedung tinggi, mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan, kereta-kereta yang datang dan pergi di stasiun, juga orang-orang yang berpakaian bagus. Inong selalu suka melihat berbagai hal berbeda dari segala yang ada di sekitar rumah kardusnya.

Inong mengucek-ucek matanya. Menguap, menahan kantuk. Padahal Emak belum juga terlihat. Hampir satu jam Inong menunggu. Kakinya mulai lelah mondar-mandir tiap kali bosan duduk saja. Yang ditunggu entah ada di mana.

Purnama perak di atas kepala Inong bercahaya begitu terang. Lingkaran sempurna yang begitu cantik memukau. Inong selalu bertanya-tanya,  sejauh apakah bulan itu, sejauh apa bintang-bintang di langit. Apakah lebih jauh dari dia dan ibunya atau malah lebih dekat. Tetapi sepertinya bulan dan bintang lebih dekat dengannya ketimbang ibunya, karena setidaknya Inong masih bisa melihat mereka, tak seperti ibunya yang belum pernah sekalipun dia lihat. Terkadang bila sedang sendirian Inong menebak-nebak seperti apa wajah ibunya, apa yang sedang dilakukan ibunya, apakah ibunya juga memikirkannya, dan beratus-ratus pertanyaan lain. Inong pernah bertanya pada Emak soal mengapa ibunya tak pernah pulang, tak pernahkah ibunya merindukannya barang sedikit saja. Tapi Emak malah melulu menyuruhnya tidur atau entah melakukan apa saja alih-alih menjawab pertanyaan itu.

Inong sudah lelah dan amat lapar. Tetapi Emak masih belum terlihat. Inong melihat ke arah tenda nasi goreng yang ada di dekatnya. Aroma nasi goreng yang menguar di udara semakin menambah keroncongan di perutnya. Meski begitu Inong tetap diam saja di tempatnya duduk. Teringat satu peristiwa yang takkan pernah Inong lupakan.

Ketika itu umurnya masih lima tahun, dan Emak sedang pergi berjualan pisang goreng saat Inong diajak mengamen di lampu merah oleh teman-temannya yang lebih besar. Inong yang masih begitu polos hanya menurut saja diajak oleh mereka. Kebetulan Emak melewati lampu merah tempat Inong mengamen. Inong yang polos memanggil Emak dengan riang gembira karena baru mendapat mainan kecrekan dari teman-temannya. Tetapi Emak jauh dari ikut bergembira, Emak malah diam dan menatap Inong sambil bertanya apa yang dilakukannya di situ. Setelah Inong menjawab sejujurnya, Emak hanya menggandeng tangannya dan pulang ke rumah.

Di rumah Emak mengatakan sesuatu tentang harga diri. Emak berkali-kali mengatakan untuk tidak meminta-minta pada orang lain sesusah apapun itu. Bahwa satu-satunya yang masih akan selalu mereka miliki adalah harga diri untuk tidak meminta-minta, untuk tidak menjadi pengemis. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu, bahkan sesuap nasi, seseorang harus bekerja dan berusaha. Meski sedikit yang bisa dipahaminya, malam itu Inong kecil belajar untuk tidak akan pernah meminta apapun pada orang lain, hanya pada Emak saja. Seperti sekarang, Inong ingat pada perkataan Emak untuk tidak berjalan ke arah tenda itu dan meminta sesuap nasi, jadi Inong hanya terus berdoa dalam hati semoga Emak segera pulang.

Entah sudah berapa lama Inong menunggu Emak di pinggir jalan itu. Purnama perak yang menggantung di langit pun kini sudah tak mampu lagi menghibur bocah perempuan itu. Badannya yang hanya ditutupi selembar baju tipis yang sudah kedodoran menggigil kedinginan terkena gigitan angin malam. Mobil-mobil berwarna-warnipun sudah tak lagi bisa mengalihkan pandangan Inong dari bayangan wajah Emak. Sependek ingatan Inong yang masih enam tahun, wajah Emak selalu tersenyum. Tak pernah sekalipun Emak bersedih di depan Inong. Bahkan ketika Emak terjatuh dan kakinya berdarah karena terantuk batu, Emak masih tetap tersenyum meski sambil meringis. Yah kecuali ketika Emak melihatnya mengamen di lampu merah setahun yang lalu, itupun Emak tidak menampakkan muka marah, hanya muka kosong dan kecewa.

Sudah hampir tengah malam ketika Inong mulai merasa ketakutan, bendungan air di matanya hampir pecah. Emak belum juga terlihat. Inong tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila Emak tak pernah pulang lagi. Belum pernah Inong mengharap sebesar ini. Hatinya penuh oleh berbagai perasaan, takut, cemas, sedih, semuanya jadi satu. Rasa laparnya sudah lama hilang, diganti kecemasan, seakan seisi perutnya penuh dengan puluhan kupu-kupu yang berterbangan, membuatnya sesak. Emak selalu mengajaknya untuk sholat dan berdoa pada Allah. Kini Inong benar-benar ingin agar Allah mengabulkan doanya, satu-satunya doa yang dalam beberapa jam ini tanpa sadar telah Inong panjatkan.

Gerimis jatuh merintiki ibu kota bersamaan dengan Inong yang mulai menitikkan airmata. Mengharap Allah mendengar doanya. Semoga Emak segera pulang. Itu saja.

Saturday, 29 December 2012


Bersamamu, hidup layaknya kembang api. Menyala-nyala, berwarna-warni, gemerlapan, indah.
Namun pada akhirnya toh kembang api mati. Dan langit kembali gelap, sepi.


Akhir pekan menjelang pergantian tahun sudah datang. Aku masih menunggu ketukan di pintu. Mungkin kamu akhirnya kembali pulang. Ah tapi mungkin kamu memang sudah pulang, hanya saja bukan lagi ke rumah ini. Rumah yang dulu pernah memerangkap segala tawa dan tangis kita. Rumah tempat segala kenangan bermula dan berakhir, mengendap di dasar.

Tentu saja, bagaimana mungkin aku masih berpikir kamu akan pulang ke sini padahal kita sudah sepakat untuk berjalan masing-masing. Sendiri-sendiri. Dengan janji akan terus berbahagia meski tak lagi bersama-sama. Yah, aku masih ingat malam itu. Ketika kita akhirnya sepakat bahwa kita memang terlalu lelah untuk terus saling menyeimbangkan dua dunia yang sama sekali berlawanan. Bahwa salah satu dari kita masing-masing tak ada yang sanggup menyeberangi jurang di antara kita untuk bisa terus bersama. Semuanya kelewat memeras hati dan perasaan. Jadi di situlah kita, di sofa kesayangan kita, saling mengangguk pelan dan berusaha tersenyum sambil sesekali menghembuskan napas, berat.

Setelah itu kamu hanya tinggal semalam di rumah kita. Aku di kamar, dan kamu di sofa itu. Esoknya, bahkan sebelum embun subuh mencium dedaunan, aku mendengar suara langkah kakimu yang mengendap keluar rumah, tanpa berusaha membangunkanku untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal. Kita toh tidak butuh ucapan selamat tinggal?

Coklat hangatku sudah lama dingin. Derit jarum panjang terus saja mengingatkanku bahwa malam semakin larut. Mungkin kamu bahkan sudah lama terjatuh tidur dan bermimpi indah. Rumah mana yang kamu tuju pulang? Aku masih saja bertanya-tanya.

Hangatkah di sana? Apakah lebih hangat dari rumah kita? Sekarang rumah ini bahkan jadi sedingin pagi pertama di musim semi. Yah, belum sedingin musim dingin memang. Kenangan yang disimpan menyelamatkannya dari kedinginan yang membekukan. Hanya sedingin pagi pertama di musim semi. Ingatkah kamu tentang pagi itu? Pagi pertama musim semi, waktu itu pukul sembilan pagi saat orang-orang sibuk lalu lalang di sepanjang Kings Road Fortress Hill untuk bekerja, sekolah, atau apapun kegiatan mereka hari itu. Dan kita ikut dalam arus orang-orang, ikut masuk ke dalam tram yang akan membawa kita ke Victoria Park, tempat diadakannya festival bunga yang diadakan setiap musim semi.

Lebih dari seratus jenis bunga bermekaran bersamaan. Kita begitu bahagia melihat bunga-bunga itu. Aku ingat saat kamu bergumam ‘Ahh, mama pasti senang kalau ada di sini. Sayang kejauhan kalau harus dibawa ke Jakarta, jadi gak bisa dijadiin oleh-oleh yah bunganya.’ Lalu aku menyeletuk asal mendengar kalimatmu tadi, ‘Aku mau bunga. Kamu belum pernah kasih aku bunga.’ Tapi alih-alih kamu membelikanku bunga, kamu hanya berkata ‘Ih. Gak ah. Beli aja sendiri.’ Hahahaha, apa sih yang aku pikirkan saat itu? Bodoh sekali memintamu membelikanku bunga. Sama bodohnya seperti ketika aku memintamu membelikanku boneka, atau apapun hal sepele yang pernah aku minta yang sebetulnya sejak awal aku tahu takkan pernah aku dapatkan.

Jarum panjang sudah sempurna menjumpai jarum pendek. Sedangkan aku masih belum juga menjumpaimu mengetuk pintu rumah kita. Haruskah aku masuk ke kamar sekarang? Karena sepertinya sia-sia saja menunggumu di sofa ini. Sofa yang dulu pernah menjadi tempat favorit kita berdua. Aku lupa sudah berapa lama sofa ini menjadi terlalu luas untuk ku nikmati sendirian.

Aku melihat ke sekeliling rumah, semuanya masih sama seperti ketika kita menatanya bersama bertahun lalu. Kamu pergi tanpa membawa apa-apa. Meninggalkan semuanya di sini, memberikan segala beban kenangan sepenuhnya kepadaku. Kepada rumah ini. Semua benda sepele yang pernah kita beli bersama, entah memang dibutuhkan atau hanya karena kita menyukai benda-benda itu. Sekarang mereka semua seolah menatapku, bertanya padaku mengapa aku tak bergegas saja melupakan semuanya dan memulai dari awal. Mereka bahkan mungkin sudah melupakanmu. Tentu saja, yang mereka lihat hanya aku yang tiap kali melulu melongok melalui jendela barangkali akhirnya kamu kembali pulang. Lagipula, memangnya benda-benda sungguhan bisa bertanya? Aku memang aneh.

Aku menghembuskan napas berat sekali lagi. Teringat ketika akulah satu-satunya alasan dan selalu menjadi tempatmu kembali pulang. Kenangan itu manis sekali. Kelewat manis. Bagaimana kamu mengatakannya padaku, bahwa akulah tempatmu menuju, tempatmu kembali pulang. Lupakah kamu tentang itu? Rasanya iya.

Aku juga teringat malam tahun baru kita yang pertama. Kita baru saja pulang menonton pertunjukan teater, di dalam taksi dan terjebak kemacetan yang luar biasa. Bagaimana tidak, seluruh kendaraan total berhenti, memutuskan untuk parkir di jalan raya dan menonton kembang api yang mulai menyala di langit gelap menandakan tahun telah berganti. Sopir taksi yang baik hati meminta kita untuk keluar saja dan membayar ongkosnya, karena kalau kita terus tinggal di dalam situ entah berapa argo yang harus kita bayarkan untuk parkir sepanjang malam. Akhirnya kita memutuskan untuk berjalan kaki. Padahal kita sama-sama sudah lelah sekali. Dan rasanya aku hanya ingin duduk di jalanan bersama orang-orang, ikut menikmati pesta kembang api tahun baru. Tapi alih-alih setuju, kamu malah terus berjalan dan mengomeliku. Seolah yang ku minta kelewat besar dan berlebihan. Padahal apa susahnya duduk di jalanan dan mencoba menikmati pesta kembang api? Toh orang lain pun seperti itu. Jadi aku hanya mengikutimu pulang sambil terus menggerutu sepanjang jalan.

Aku jadi berpikir, selama bersamamu, aku selalu berusaha untuk bisa memahamimu, untuk bisa menyeimbangimu. Tapi pernahkah kamu mencoba untuk memahamiku? Untuk menyeimbangiku? Atau aku sudah mulai lupa segala yang pernah kamu coba lakukan untukku? Karena malam ini, hampir-hampir segala kenangan yang muncul di hadapanku hanyalah tentang kamu yang begitu menyebalkan dan tak pernah mau mencoba memahamiku. Ataukah memang selama ini kamu tak pernah manis kepadaku? Kalau pernah, mengapa aku lupa?

Aku bahkan ingat wajahmu saat aku marah-marah protes tentang bagaimana buruknya kamu memperlakukan aku yang malah hanya kamu jawab dengan kalimat yang membuatku semakin sedih. ‘Karena itu kamu. Dan bukan wanita yang lain. Kalau wanita yang lain, aku gak akan jahat.’ Yang bisa kusimpulkan hanyalah dari sudut pandangmu aku memang layak diperlakukan buruk olehmu.

Mengapa aku tak bisa mengingat hal-hal manis yang pernah kamu lakukan untukku? Apa sekarang aku betul-betul sudah melupakan kenangan manis itu? Mengapa yang tinggal hanyalah kepedihan? Atau mungkin kamu membawa segala kenangan manis itu bersamamu saat keluar dari rumah ini malam itu?

Satu-satunya kenangan manis yang mampu ku ingat hanyalah aku pernah jadi alasan sekaligus tempat satu-satunya kamu kembali pulang. Itu mengapa aku masih saja terus duduk di sofa ini. Menunggumu mengetuk pintu rumah kita. Rumah kita yang sekarang menjadi sedingin pagi musim semi.

Mungkin kamu sudah menemukan rumah yang lain dan tak ingat lagi jalan menuju rumah ini. Yah itu mungkin saja. Nah.. Aku akan masuk ke kamar saja sekarang. Sofa ini semakin dingin.

Omong-omong…

Kamu, pernahkah sekali saja memikirkanku?

Aku… memikirkanmu. Selalu.

Selamat tahun baru, kamu.